Press "Enter" to skip to content

Budaya Berjudi di Masyarakat Indonesia

Sepanjang sejarah kita, warga negara Indonesia memiliki berbagai jenis budaya budaya. Beberapa nenek moyang kita mewariskan kebiasaan turun-temurun yang membuat kita semua menjadi seperti sekarang ini, dengan pengetahuan dan adat istiadat beberapa leluhur.

Misalnya dengan adat istiadat ini yang diturunkan dari orang Tionghoa yang tinggal di tanah Indonesia, dimana mereka akan selalu mengingat beberapa keluarga dan sesepuh suku mereka. Persatuan beberapa orang Tionghoa juga akan mudah ditemukan ketika kerabat atau kenalan mereka meninggal. 

Mereka juga akan mengobrak-abrik tempat duka perkumpulan warga Tionghoa, di mana mereka mungkin juga tahu bersama atau apakah salah satu dari mereka, yang masih berhubungan darah, juga akan terungkap di sana.

Lalu ada kebiasaan berjudi yang salah satunya akan kita kaji juga yaitu sabung ayam. Kebiasaan coring ayam kampung jantan rupanya sudah dimulai sejak jaman dahulu, baik itu di pulau sumatera, pulau jawa maupun pulau kalimantan, bali juga tahu tentang kebiasaan ini. Ini bukan hanya permainan untung-untungan. 

Baca juga: 10 Negara Pecinta Judi, Apakah Indonesia Termasuk?

Pertama ada sabung ayam. Mungkin itu adalah adat atau upacara kepercayaan di masa lalu karena banyak peminat dan warga sekitar berkumpul untuk melihat acara tersebut sehingga hingga setahun setelah itu sabung ayam masih berlangsung. 

Bagian yang menyenangkan dari melihat adegan aksi setelahnya adalah apa yang masih disukai orang-orang.

Dan di masa sekarang masih ada beberapa orang yang terikat permainan poker di Indonesia, dan juga saat ini banyak yang menyukai taruhan seperti di situs judi bola, meski sudah menjadi salah satu larangan mereka jika berjudi dan tertangkap aparat.

Di wilayah Jawa, sabung ayam sendiri dikenal dari salah satu cerita rakyat yang ada yaitu dongeng tentang Cindelaras. Penuturannya bermula ketika Cindelaras memiliki seekor ayam yang perkasa dan kemudian diajak oleh Raja Jenggala saat itu untuk memukul ekornya dengan ayam Raden Putra. 

Dengan pertaruhan saat itu, jika Cindelaras kalah ia juga akan dipenggal kepalanya, sedangkan jika yang kalah memiliki anak Raden, Raden Putra juga akan memberikan sebagian hartanya kepada Cindelaras.

Dari narasi ini saja, kita dapat melihat bahwa memang ada yang namanya judi di zaman kuno dan itu sudah berakar pada adat istiadat kita di Indonesia. Hingga saat ini, terkadang tidak hanya ayam yang dimusnahkan, tetapi juga kerbau bahkan jangkrik. Perjuangan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *